Sesuatu mengganggu pikiran saya.
Saya sangat bersyukur diberikan beberapa kelebihan yang menurut saya, hanya manusia-manusia yang beruntung lah yang dapat merasakan apa yang saya rasakan.
Dan saya tidak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan atas kelebihan-kelebihan yang telah diberikanNya kepada saya dan efeknya terhadap orang-orang dekat saya yang saya sayangi.
Tetapi terkadang kelebihan bisa menjadi kekurangan apabila kelebihan tersebut digunakan secara berlebihan.
Ironis. Tapi begitulah kenyataannya.
Terkadang saya berandai-andai bahwa sehari itu lebih dari 24 jam, karena saya merasa 24 jam itu tidak cukup dan waktu berlalu begitu cepat.
Tapi Tuhan menciptakan sesuatu tentunya secara efektif, efisien, reasonable, and the best from the best (which i think it's not possible if human who created it).
Tidak berlebih tidak juga kekurangan.
You'll get what you need in the right time at the right place and with the exact proportion to fulfill your needs.
Sebagai manusia, tentu kita kerap merasakan perasaan tidak puas, dan memiliki banyak permintaan, yang semakin tua manusia tersebut biasanya permintaannya akan semakin banyak dan kompleks.
Dan biasanya sebagai manusia juga kita mengharapkan permintaan kita dikabulkan saat itu juga, dan jika tidak dikabulkan kita akan mengeluh, mengeluh dan mengeluh bahwa kehidupan sangat tidak adil, atau menghakimi Tuhan tidak adil.
Hal ini mengingatkan saya pada tingkah keponakan saya, yang apabila keinginannya tidak terpenuhi saat itu juga, ia akan merajuk lalu menangis meraung-raung.
Dengan demikian, bukankah kita yang di mata hukum dikategorikan sebagai manusia dewasa, pada kenyataannya menjadi tak lebih dari balita yang mengenakan kostum manusia dewasa?
Saya tidak percaya Tuhan tidak adil. Menurut pendapat saya, Tuhan Maha Adil.
Seorang teman pernah berkata pada saya, "Hidup itu sampah! Dan Tuhan itu tidak adil! Kapan saya bisa terbebas dari kehidupan ini? Pilihannya cuma 2 : get a better life or get away from life."
Lalu saya bertanya padanya, apakah yang menurutnya adil dan mengapa ia berpendapat demikian?
Ia mengatakan bahwa menurutnya mengapa ia hidup ke dalam ke tidak beruntungan sementara orang lain hidup dalam keberuntungan.
"Apa definisi keberuntungan menurutmu?", saya pun bertanya.
Dia pun menjawab, "Keberuntungan menurutku adalah orang-orang yang dilahirkan rupawan, kaya raya, pintar, dan mendapatkan segalanya di muka bumi ini."
Saya tidak langsung menjawab, saya hanya mengamatinya selama beberapa saat dan mencoba memberikan jawaban yang menurut saya, dibutuhkannya bukan yang diharapkannya.
"Tahu darimana orang tersebut ketika lahir sudah rupawan? Tahu darimana orang tersebut ketika lahir sudah kaya? Dan tahu darimana orang tersebut ketika lahir sudah pintar?", saya pun akhirnya menjawab.
"Bukan tidak mungkin, ia berusaha keras membentuk tubuhnya yang sekarang dengan olahraga mati-matian dan dengan melahap makanan sehat yang rendah kalori dan baik untuk tubuh tapi sama sekali tidak terasa nikmat di lidah. Sementara orang lain melahap makanan cepat saji yang lezat namun tidak sehat itu, dan tidak merasa perlu bersusah payah bangun pagi untuk berolahraga, atau melewatkan waktu beberapa jam di pusat kebugaran, melainkan mereka tidur sampai siang, dan duduk santai seharian di depan televisi.", lanjut saya.
"Bukan tidak mungkin, ia melewatkan waktu yang seharusnya dilewatkan bersama orang-orang yang dikasihinya dengan terus menerus bekerja, sementara rekan-rekannya melewati kehidupannya yang indah dengan menikmati kebersamaan dengan keluarganya, dengan pasangannya, melihat dan terlibat langsung dengan pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya, sementara ia menghabiskan hidupnya dengan bekerja keras membanting tulang, mengejar klien dari satu tempat ke tempat lain, pulang dengan kondisi penuh debu karena seharian menghabiskan waktunya di jalan.", lanjut saya lagi.
"Dan bukan tidak mungkin, ia melewatkan masa mudanya, sementara pada masa-masa itu teman-temannya melewati masa mudanya yang indah dengan bergaul di tempat-tempat hiburan, memiliki teman-teman yang banyak, merasakan nikmatnya berpacaran, sementara ia menghabiskan masa mudanya di depan meja membaca buku, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, menyimak setiap perkembangan yang terjadi di dunia. Hal-hal yang mungkin menurut anak-anak muda membosankan, ia justru melakukannya.
Kalau sudah begitu, bukankah sudah merupakan haknya, ia menjadi seorang yang rupawan, kaya raya, dan pintar? Dan bukankah wajar kalau ia bisa mendapatkan segala yang ia mau saat ini?"
"Manusia kerap menilai yang terlihat saja, kita terkadang lupa, hidup itu adalah proses. Sehingga orang lain mencapai tittik sukses maka kita pun hanya bisa terkagum-kagum,padahal kita tidak tahu neraka apa yang telah ia lalui untuk mencapai itu semua. Some people said, you have to cross hell to achieve heaven. Terkadang kita perlu mengalami benturan hebat dulu baru kita bisa mengambil hikmahnya dan mencapai sukses. Atau kita harus diberi peringatan berupa bencana-bencana agar kita kembali ingat pada Tuhan, dan bertaubat." ia pun tampak berpikir ketika saya selesai berbicara.
Setelah beberapa saat ia terdiam, ia menatap saya lalu berkata, "Tapi bagaimana dengan orang yang benar-benar dilahirkan rupawan, ia pun lahir dalam kondisi kaya raya, dan ia pintar dalam arti, katakanlah ketika ia dewasa ia degemari banyak lawan jenis, kekasihnya dimana-mana, ia pun pandai mengelola bisnis sehingga seiring dengan usia ia pun semakin kaya raya. Kalau bukan beruntung apa itu namanya? Sangat tidak adil bukan?"
Saya pun menjawab, "Orang yang dilahirkan rupawan, secara psikologis dapat menimbulkan rasa bangga akan diri sendiri yang berlebihan, atau merasa dirinya lah yang paling rupawan. Kalau sudah begitu kehidupannya hanya akan berputar di dirinya saja, karena ia menjadi manusia yang mencintai dirinya sendiri. Dan bukan tidak mungkin pasangannya hanya tertarik pada fisiknya semata, dan fisik itu hanyalah sementara, seiring dengan waktu tentu akan muncul tanda-tanda ketuaan, dan sebagaimana kita ketahui, kalau kita hanya melihat fisik semata, selalu akan ada yang lebih muda, lebih rupawan, dan lebih menarik."
"Orang yang dilahirkan kaya raya, pintar mengelola bisnis seperti yang kau maksud itu, saya meragukan bahwa ia memiliki rasa aman di lingkungannya, orang seperti itu kerap diliputi keraguan kepada setiap orang yang mendekatinya, karena ia tidak yakin apakah orang-orang tersebut mendekatinya karena kepribadiaannya atau karena kekayaannya. Dan apabila kau sulit mempercayai orang lain bukankah kau akan sulit menemukan orang yang benar-benar menyayangimu? Dan secara psikologis, orang tipe ini memiliki tingkat stres yang tinggi. Dan itu hanya gambaran dari satu sisi, sementara masih banyak lagi kekurangannya dari sisi lain. Apakah kau mau bertukar tempat dengan orang seperti ini? Ini semua hanya kebahagiaan duniawi, dan duniawi hanya bersifat sementara. Seandainya kau bertanya padaku, apa arti kebahagiaan bagiku, maka jawabanku adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan seandainya kau bertanya padaku, apa arti kekayaan bagiku, maka jawabanku adalah semua kebutuhanku terpenuhi, tidak kekurangan, bermanfaat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain."
Dia pun mengangguk dan berkata sambil tersenyum, "Itu idealis namanya."
And i said, "No, it's realistic if you want to make it real."
Saya sangat bersyukur diberikan beberapa kelebihan yang menurut saya, hanya manusia-manusia yang beruntung lah yang dapat merasakan apa yang saya rasakan.
Dan saya tidak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan atas kelebihan-kelebihan yang telah diberikanNya kepada saya dan efeknya terhadap orang-orang dekat saya yang saya sayangi.
Tetapi terkadang kelebihan bisa menjadi kekurangan apabila kelebihan tersebut digunakan secara berlebihan.
Ironis. Tapi begitulah kenyataannya.
Terkadang saya berandai-andai bahwa sehari itu lebih dari 24 jam, karena saya merasa 24 jam itu tidak cukup dan waktu berlalu begitu cepat.
Tapi Tuhan menciptakan sesuatu tentunya secara efektif, efisien, reasonable, and the best from the best (which i think it's not possible if human who created it).
Tidak berlebih tidak juga kekurangan.
You'll get what you need in the right time at the right place and with the exact proportion to fulfill your needs.
Sebagai manusia, tentu kita kerap merasakan perasaan tidak puas, dan memiliki banyak permintaan, yang semakin tua manusia tersebut biasanya permintaannya akan semakin banyak dan kompleks.
Dan biasanya sebagai manusia juga kita mengharapkan permintaan kita dikabulkan saat itu juga, dan jika tidak dikabulkan kita akan mengeluh, mengeluh dan mengeluh bahwa kehidupan sangat tidak adil, atau menghakimi Tuhan tidak adil.
Hal ini mengingatkan saya pada tingkah keponakan saya, yang apabila keinginannya tidak terpenuhi saat itu juga, ia akan merajuk lalu menangis meraung-raung.
Dengan demikian, bukankah kita yang di mata hukum dikategorikan sebagai manusia dewasa, pada kenyataannya menjadi tak lebih dari balita yang mengenakan kostum manusia dewasa?
Saya tidak percaya Tuhan tidak adil. Menurut pendapat saya, Tuhan Maha Adil.
Seorang teman pernah berkata pada saya, "Hidup itu sampah! Dan Tuhan itu tidak adil! Kapan saya bisa terbebas dari kehidupan ini? Pilihannya cuma 2 : get a better life or get away from life."
Lalu saya bertanya padanya, apakah yang menurutnya adil dan mengapa ia berpendapat demikian?
Ia mengatakan bahwa menurutnya mengapa ia hidup ke dalam ke tidak beruntungan sementara orang lain hidup dalam keberuntungan.
"Apa definisi keberuntungan menurutmu?", saya pun bertanya.
Dia pun menjawab, "Keberuntungan menurutku adalah orang-orang yang dilahirkan rupawan, kaya raya, pintar, dan mendapatkan segalanya di muka bumi ini."
Saya tidak langsung menjawab, saya hanya mengamatinya selama beberapa saat dan mencoba memberikan jawaban yang menurut saya, dibutuhkannya bukan yang diharapkannya.
"Tahu darimana orang tersebut ketika lahir sudah rupawan? Tahu darimana orang tersebut ketika lahir sudah kaya? Dan tahu darimana orang tersebut ketika lahir sudah pintar?", saya pun akhirnya menjawab.
"Bukan tidak mungkin, ia berusaha keras membentuk tubuhnya yang sekarang dengan olahraga mati-matian dan dengan melahap makanan sehat yang rendah kalori dan baik untuk tubuh tapi sama sekali tidak terasa nikmat di lidah. Sementara orang lain melahap makanan cepat saji yang lezat namun tidak sehat itu, dan tidak merasa perlu bersusah payah bangun pagi untuk berolahraga, atau melewatkan waktu beberapa jam di pusat kebugaran, melainkan mereka tidur sampai siang, dan duduk santai seharian di depan televisi.", lanjut saya.
"Bukan tidak mungkin, ia melewatkan waktu yang seharusnya dilewatkan bersama orang-orang yang dikasihinya dengan terus menerus bekerja, sementara rekan-rekannya melewati kehidupannya yang indah dengan menikmati kebersamaan dengan keluarganya, dengan pasangannya, melihat dan terlibat langsung dengan pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya, sementara ia menghabiskan hidupnya dengan bekerja keras membanting tulang, mengejar klien dari satu tempat ke tempat lain, pulang dengan kondisi penuh debu karena seharian menghabiskan waktunya di jalan.", lanjut saya lagi.
"Dan bukan tidak mungkin, ia melewatkan masa mudanya, sementara pada masa-masa itu teman-temannya melewati masa mudanya yang indah dengan bergaul di tempat-tempat hiburan, memiliki teman-teman yang banyak, merasakan nikmatnya berpacaran, sementara ia menghabiskan masa mudanya di depan meja membaca buku, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, menyimak setiap perkembangan yang terjadi di dunia. Hal-hal yang mungkin menurut anak-anak muda membosankan, ia justru melakukannya.
Kalau sudah begitu, bukankah sudah merupakan haknya, ia menjadi seorang yang rupawan, kaya raya, dan pintar? Dan bukankah wajar kalau ia bisa mendapatkan segala yang ia mau saat ini?"
"Manusia kerap menilai yang terlihat saja, kita terkadang lupa, hidup itu adalah proses. Sehingga orang lain mencapai tittik sukses maka kita pun hanya bisa terkagum-kagum,padahal kita tidak tahu neraka apa yang telah ia lalui untuk mencapai itu semua. Some people said, you have to cross hell to achieve heaven. Terkadang kita perlu mengalami benturan hebat dulu baru kita bisa mengambil hikmahnya dan mencapai sukses. Atau kita harus diberi peringatan berupa bencana-bencana agar kita kembali ingat pada Tuhan, dan bertaubat." ia pun tampak berpikir ketika saya selesai berbicara.
Setelah beberapa saat ia terdiam, ia menatap saya lalu berkata, "Tapi bagaimana dengan orang yang benar-benar dilahirkan rupawan, ia pun lahir dalam kondisi kaya raya, dan ia pintar dalam arti, katakanlah ketika ia dewasa ia degemari banyak lawan jenis, kekasihnya dimana-mana, ia pun pandai mengelola bisnis sehingga seiring dengan usia ia pun semakin kaya raya. Kalau bukan beruntung apa itu namanya? Sangat tidak adil bukan?"
Saya pun menjawab, "Orang yang dilahirkan rupawan, secara psikologis dapat menimbulkan rasa bangga akan diri sendiri yang berlebihan, atau merasa dirinya lah yang paling rupawan. Kalau sudah begitu kehidupannya hanya akan berputar di dirinya saja, karena ia menjadi manusia yang mencintai dirinya sendiri. Dan bukan tidak mungkin pasangannya hanya tertarik pada fisiknya semata, dan fisik itu hanyalah sementara, seiring dengan waktu tentu akan muncul tanda-tanda ketuaan, dan sebagaimana kita ketahui, kalau kita hanya melihat fisik semata, selalu akan ada yang lebih muda, lebih rupawan, dan lebih menarik."
"Orang yang dilahirkan kaya raya, pintar mengelola bisnis seperti yang kau maksud itu, saya meragukan bahwa ia memiliki rasa aman di lingkungannya, orang seperti itu kerap diliputi keraguan kepada setiap orang yang mendekatinya, karena ia tidak yakin apakah orang-orang tersebut mendekatinya karena kepribadiaannya atau karena kekayaannya. Dan apabila kau sulit mempercayai orang lain bukankah kau akan sulit menemukan orang yang benar-benar menyayangimu? Dan secara psikologis, orang tipe ini memiliki tingkat stres yang tinggi. Dan itu hanya gambaran dari satu sisi, sementara masih banyak lagi kekurangannya dari sisi lain. Apakah kau mau bertukar tempat dengan orang seperti ini? Ini semua hanya kebahagiaan duniawi, dan duniawi hanya bersifat sementara. Seandainya kau bertanya padaku, apa arti kebahagiaan bagiku, maka jawabanku adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan seandainya kau bertanya padaku, apa arti kekayaan bagiku, maka jawabanku adalah semua kebutuhanku terpenuhi, tidak kekurangan, bermanfaat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain."
Dia pun mengangguk dan berkata sambil tersenyum, "Itu idealis namanya."
And i said, "No, it's realistic if you want to make it real."